Dapatkan tiket pelatihan menulis buku angkatan 24 di kantor permata ilmu jogja atau warpostel KOPMA UGM
Pasangan yang ingin cepat punya momongan sering berpikir bahwa waktu berhubungan seks perlu dipertimbangkan agar kehamilan dapat terjadi secara optimal. Sebenarnya, tidak ada hari atau tanggal yang paling tepat untuk bercinta agar dapat hamil.
Waktu terbaik agar cepat hamil adalah dengan melakukan hubungan seks sekali sehari setiap hari selama 4 – 5 hari sebelum dan saat ovulasi.
Ovulasi terjadi ketika telur yang matang dilepaskan dari ovarium, didorong menuju tuba falopi dan siap dibuahi. Lapisan rahim mengental untuk mempersiapkan telur yang akan dibuahi. Jika pembuahan tidak terjadi, lapisan rahim serta darah akan dalam bentuk menstruasi.
“Perempuan harus memahami siklus haidnya. Menyadari gejala ovulasi seperti perubahan lendir pada rahim yang berbentuk cairan encer akan membantu perempuan mengenali masa suburnya. Ini adalah waktu untuk fokus pada berhubungan seks,” kata Paula Hillard, MD, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di Stanford University School of Medicine di Palo Alto, California seperti dilansir Babymed.com, Senin (2/4/2012).
Penelitian telah menunjukkan bahwa pada perempuan yang memiliki siklus haid teratur, ovulasi dapat terjadi selama beberapa hari dari siklus menstruasi sehingga waktu yang optimal untuk hamil lebih panjang.
Karena berhubungan seks setelah ovulasi tidak akan menyebabkan hamil, dokter sering menyarankan untuk melakukan hubungan seks secara teratur 2 – 3 kali seminggu. Jumlah tersebut merupakan waktu terbaik untuk hamil dan meningkatkan kesempatan hamil.
Peningkatan jumlah estrogen dalam rahim dan saluran reproduksi perempuan menjelang ovulasi memungkinkan sperma untuk hidup hingga 6 hari. Penelitian telah menunjukkan bahwa pada perempuan dengan siklus haid teratur, ovulasi bisa terjadi kapan saja. Jadi, pertanyaan kapan tepatnya waktu terbaik untuk hamil tidak pernah terjawab secara signifikan.
“Waktu terbaik untuk hamil dan melakukan hubungan seks adalah saat memasuki periode ‘jendela kesuburan’. Jendela kesuburan berlangsung selama 6 hari, dimulai dari 5 hari sebelum ovulasi sampai 1 hari saat ovulasi. Hari paling subur adalah 1-2 hari sebelum dan saat ovulasi,” kata Allen J. Wilcox dari departemen Racun Lingkungan & Reproduksi Manusia National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS).
Dalam penelitian yang dilakukan Wilcox ini, pasangan yang mencoba untuk hamil diminta melakukan hubungan seks sekali setiap hari selama masa subur. Hasilnya, rata-rata pasangan yang mencoba untuk hamil mengaku bahwa waktu terbaik untuk hamil adalah bercinta secara teratur 2-3 kali seminggu setiap minggu. Hal ini dilakukan karena pasangan tidak tahu pasti kapankah ovulasi terjadi.
Setelah dihitung-hitung, presentase kemungkinan hamil dengan waktu melakukan hubungan seks adalah sebagai berikut:
1. Berhubungan seks setiap hari selama masa subur: Kemungkinan hamil 37%
2. Berhubungan seks setiap hari di luar masa subur: Kemungkinan hamil 33%
3. Berhubungan seks seminggu sekali: Kemungkinan hamil 15%
Untuk meningkatkan peluang hamil, sebaiknya pasangan berhubungan seks secara teratur setiap hari sepanjang siklus menstruasi, khususnya selama masa subur.
Sumber: detik.com
Banyak wanita yang mempertanyakan mengapa hamil di usia 30-an atau 40-an dianggap memiliki resiko tinggi. Di atas usia 35 tahun, memang ada beberapa resiko yang meningkat baik untuk sang ibu (seperti tekanan darah tinggi dan pre-eklampsia) dan juga untuk sang bayi (seperti resiko Down Syndrome) meningkat tiap tahunnya. Tapi, tanpa mengabaikan resiko-resiko tersebut, wanita yang berusia di atas 35 tahun juga bisa kok menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang sempurna.
Jika Anda seorang wanita berusia di atas 35 tahun dan sedang hamil, dokter Anda biasanya memperlakukan Anda dengan ekstra hati-hati. Anda akan diminta untuk check up kehamilan lebih sering, dan lebih diwajibkan untuk menjalani serangkaian tes, konseling genetik dan skrining kendala-kendala yang mungkin terjadi pada wanita hamil usia 30-an. Pilihan proses melahirkan juga biasanya lebih terbatas. Anda kemungkinan tidak akan disarankan untuk melahirkan di bidan atau rumah bersalin kecil, karena resiko melahirkan Anda lebih besar sehingga Anda akan diminta untuk melahirkan di rumah sakit besar atau rumah bersalin besar. Namun, dengan melakukan perawatan prenatal yang baik, Anda bisa mengurangi komplikasi yang berhubungan dengan usia persalinan secara signifikan.
Kabar baiknya adalah, kebanyakan wanita yang hamil di usia 40-an ternyata berhasil menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang sehat pula. Dan wanita hamil pada usia 40-an biasanya lebih berhati-hati terhadap kehamilannya dibandingkan wanita yang lebih muda. Mereka akan lebih mencari dan menyerap informasi dengan baik tentang kondisi-kondisi dan resiko-resiko yang mungkin terjadi pada kehamilan mereka. Mereka biasanya lebih sering bertanya tentang perkembangan janin mereka. Mereka juga lebih mementingkan perawatan pre-natal dan biasanya mempersiapkan diri mereka lebih baik sebelum hamil, jika kehamilan tersebut memang direncanakan. Karena itu para ilmuwan sekarang mempercayai bahwa resiko ibu hamil di usia yang lebih tua tidak meningkat secara tajam hanya karena faktor usia saja.
Ada beberapa masalah yang sering ditemukan dokter pada wanita hamil dengan usia di atas 35 tahun, seperti diabetes gestational (diabetes yang muncul pada saat kehamilan), tekanan darah tinggi dan juga masalah-masalah pada janin. Wanita hamil dengan usia yang lebih tua juga akan lebih sering mengalami masalah pada kandung kemih dibandingkan wanita hamil dengan usia yang lebih muda. Resiko-resiko lainnya adalah resiko keguguran lebih besar, lebih banyak yang melahirkan melalui operasi Caesar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, dan juga memiliki resiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat.
Saat berusia akhir 30-an, wanita cenderung mengalami kondisi-kondisi medis berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti fibroid uterine dan tumor otot. Fibroid uterine adalah pertumbuhan sel otot atau jaringan lain di dinding uterus, membentuk tumor. Fibroid uterine dan tumor otot bisa menimbulkan rasa nyeri atau perdarahan vagina saat kehamilan berkembang. Jika wanita tersebut hamil di atas usia 40 tahun, tingkat keparahannya bahkan lebih berat lagi. Problem-problem tadi bisa bertambah dengan adanya hemoroid (wasir), inkontinensi (kesulitan menahan keluarnya urin), varises, problem-problem pembuluh darah, nyeri otot, nyeri punggung, dan juga proses melahirkan yang lebih sulit dan lebih panjang.
Selain resiko melahirkan bayi dengan Sindroma Down, resiko keguguran dan melahirkan dengan operasi Caesar, wanita hamil berusia di atas 35 tahunan juga memiliki resiko bayi meninggal saat dalam rahim atau saat proses melahirkan. Walaupun resiko ini ada di setiap usia kehamilan, namun pada wanita dengan usia 35 tahun ke atas, resiko ini lebih besar, yaitu 7 dari 1000 kehamilan.
Wanita yang hamil dengan usia di atas 35 tahun biasanya juga akan diminta untuk melakukan konseling genetik, atau konseling ini bisa juga dilakukan oleh dokter kandungan. Ada 3 wilayah yang menjadi fokus pada saat melakukan konseling genetik, yaitu sejarah/riwayat reproduksi pasien, riwayat kesehatan keluarga, serta consanguinity, yaitu kondisi genetika yang disebabkan perkawinan antar-saudara.
Riwayat reproduksi meliputi apakah pasien pernah hamil, pernah mengalami keuguguran, atau pernah mengalami kematian janin di dalam rahim atau saat proses melahirkan. Selain itu penggunaan metode KB, lama waktu penggunaan KB, dan apakah pasien pernah terpapar zat-zat berbahaya misalnya karena lingkungan pekerjaan juga menjadi informasi yang penting dalam konseling.
Riwayat kesehatan keluarga pasien juga penting untuk menentukan apakah kehamilan yang sedang dijalani termasuk kehamilan ber-resiko tinggi atau tidak. Informasi ini mencakup tentang status kesehatan pasien dan pasangan, para saudara kandung pasien dan pasangan, jika ada yang sudah meninggal juga akan ditanyakan penyebab dan usia saat meninggal serta apakah ada yang meninggal sehubungan dengan proses kelahiran (saat melahirkan atau saat dilahirkan). Riwayat kesehatan keluarga akan membantu dokter mengidentifikasi abnormalitas yang telah muncul di keluarga pasien dan membantu memprediksi kemungkinannya untuk muncul pada pasien.
Jika pasien dan pasangan masih tergolong saudara, hal ini juga penting untuk diinfokan pada dokter/konselor, karena jika pasangan suami istri adalah sepupu langsung, mereka memiliki 1/16 gen yang sama. Artinya kemungkinan terjadi kelainan-kelainan genetika pada anak yang akan dilahirkan lebih tinggi dibanding jika mereka menikah dengan orang yang tidak dalam satu kerabat. Beberapa orang Afrika dan etnis Mediterania juga memiliki kecenderungan untuk menurunkan penyakit Anemia sickle cell pada turunannya.
Yang penting untuk diperhatikan adalah, konselor atau dokter tidak akan memberikan keputusan pada pasien dan pasangannya berkenaan dengan hasil konseling. Mereka hanya akan menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan sang pasien tentang kehamilan dan janinnya, dan keputusan bahwa apakah kehamilan tersebut akan diteruskan atau digugurkan (jika prediksi terhadap resiko-resiko yang mungkin dialami terlalu tinggi) diserahkan sepenuhnya pada calon orang tua.
Prenatal Testing atau pengujian-pengujian pada saat kehamilan yang dilakukan pada kehamilan beresiko tinggi tidak dapat mendeteksi semua abnormalitas yang mungkin terjadi. Namun abnormalitas kromosom bisa dideteksi pada saat perkembangan janin melalui serangkaian tes seperti amniocentesis, ultrasound, sampling chorionic villus dan fetoscopy. Hasil dari serangkaian pengujian ini akan memberi pilihan bagi pasangan untuk melanjutkan kehamilan atau menggugurkan janin yang dikandung jika ternyata terdeteksi adanya kelainan. Hasil tes-tes ini juga akan menjadi panduan bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan-tindakan yang dirasa perlu pada saat kehamilan, kelahiran, dan membantu sang orang tua untuk memberi saran-saran tentang tumbuh-kembang sang buah hati.
Kehamilan di usia di atas 35 tahun kedengarannya memang menyeramkan, tapi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kebanyakan wanita yang hamil di atas usia 35 tahun berhasil menjalankan kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang sempurna. Memang benar bahwa resiko akan bertambah sejalan dengan meningkatnya usia calon ibu saat hamil, namun dengan persiapan yang lebih matang, informasi yang lebih lengkap, serta bantuan tenaga kesehatan yang lebih sigap dan informatif terhadap kondisi kehamilan beresiko tinggi akan membantu sang calon ibu untuk bisa tetap percaya diri, sehat, dan semangat saat menjalani kehamilannya.
Sumber:
http://mediasehat.com/konten4no97
Anak-anak sudah dibekali dengan gadget-gadget canggih seperti smartphone bahkan sejak usia dini. Kebiasaan ini membuat anak-anak menjadi kurang mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan menjadi antisosial.
Orangtua hanya memfokuskan agar anak-anak mendapat nilai bagus tetapi menomorduakan aspek-aspek lain seperti attitude dan nilai moral sehingga anak-anak rentan stres.
Anak-anak pada usia balita sampai 13 tahun dan remaja sangat memerlukan bimbingan orangtua dalam menonton TV dan menggunakan jejaring sosial.
“Orangtua tidak boleh hanya memanjakan anak dengan peralatan-peralatan canggih tapi tidak memberikan pengarahan dan pengawasan kepada anak. Bukan berarti overprotektif terhadap anak, tapi agar anak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” kata Dra. Ratih Ibrahim, MM., Psikolog, direktur Personal Growth, lembaga konseling dan pengembangan diri dalam diskusi bersama media di Plaza Bapindo, Jakarta, Selasa (20/3/2012).
Ratih menyayangkan apabila banyak anak-anak yang cerdas tapi tidak memiliki empati kepada sesama dan tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Personal Growth mencatat bahwa 4 dari 5 anak yang datang berkonsultasi menunjukkan gejala stres berat. Anak-anak tersebut berusia dari 3 – 13 tahun.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kehadiran orangtua dan orangtua yang terobsesi dengan nilai-nilai akademis anaknya.
Jika dibandingkan pria, wanita merupakan kelompok paling rentan terkena migren atau sakit kepala sebelah. Mengapa? Sebuah riset terbaru menemukan, perubahan hormon yang terjadi pada wanita diduga sebagai alasan utama kenapa wanita cenderung lebih mungkin menderita migren ketimbang pria.
Data dari National Headache Foundation mencatat, sekitar 30 juta orang Amerika Serikat menderita migren dan wanita berisiko hampir tiga kali lebih tinggi mengalami serangan tersebut ketimbang pria.
“Perubahan hormon memiliki kontribusi besar terhadap insiden migren yang lebih tinggi pada perempuan,” kata dr Michael Moskowitz, seorang profesor neurologi dari Harvard Medical School di Boston Amerika Serikat.
“Ada bukti yang mendukungan temuan ini dan penurunan serangan migren pada wanita biasanya terjadi pascamenopause.” tambahnya.
Peneliti mengatakan, serangan migren pada wanita kemungkinan besar akan terjadi sebelum atau sesaat setelah timbulnya menstruasi. Selain itu, pola serangan migren pada perempuan dapat berubah selama kehamilan atau menopause.
Peneliti mengungkapkan, ada banyak faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita migren baik pada pria maupun wanita:
* Keturunan : Orang dengan riwayat migren dalam keluarga, terutama mereka yang memiliki satu atau lebih saudara yang menderita migrain, secara signifikan berada pada peningkatan risiko yang lebih besar.
* Usia : Data menunjukkan, pasien mengalami migrain antara usia 15 dan 55 tahun. Serangan pertama biasanya terjadi sebelum usia 40.
* Kondisi medis : masalah kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi, cemas, stroke, depresi, dan epilepsi, telah dihubungkan dengan peningkatan risiko migrain.
Moskowitz mengatakan, meskipun migren tidak dapat disembuhkan, tetapi penyakit ini dapat dikelola secara efektif dengan bantuan dokter. Banyak obat yang tersedia untuk mencegah dan menghilangkan rasa sakit, dan perubahan gaya hidup dapat menghilangkan beberapa pemicu yang menyebabkan migren.
Sumber: kompas.com
Sakit kepala sebelah atau biasa dikenal migren merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dikeluhkan. Serangan penyakit ini terkadang datang secara tiba-tiba. Penderita migren akan merasakan nyeri dan berdenyut seperti dipukul, ditarik-tarik, dan biasanya cenderung lebih sensitif terhadap cahaya dan suara.
Kalau Anda pernah mengalami migren kini tidak perlu terlalu cemas. Salah seorang ahli gizi terkenal, Joy Bauer, yang juga penulis buku Food Cures menyebutkan bahwa ada beberapa jenis makanan yang dapat meringankan atau bahkan mengobati serangan migren.
Menurut Bauer, pola diet yang tepat (dengan gizi seimbang) dapat membantu mengelola, merawat dan bahkan menghentikan derita akibat sakit kepala migren. Berikut adalah lima makanan yang disebut-sebut dapat membantu meringankan serangan migren :
1. Telur yang diperkaya Omega-3: Diet tinggi kandungan asam lemak omega-3, khususnya pada telur dapat mengurangi peradangan yang diduga sebagai penyebab migren. Selain telur, Anda juga dapat mengonsumsi beberapa jenis ikan laut, khususnya ikan salmon, yang juga terbukti efektif dalam melawan nyeri kepala akibat migren.
2. Kacang: Kacang-kacangan banyak mengandung magnesium, kekurangan mineral ini telah dikaitkan dengan migren. Sejumlah penelitian telah menghubungkan antara kekurangan magnesium dan sakit kepala migren. Penelitian menujukkan bahwa sekitar separuh dari semua penderita migrain memiliki magnesium terionisasi dalam darah dalam jumlah sedikit. Magnesium, yang dikandung dalam kacang, melindungi tubuh dari sakit kepala dengan cara merelaksasi pembuluh darah. Selain itu, magnesium memiliki efek menenangkan sehingga berguna untuk meredakan sakit kepala akibat tegang.
3. Susu skim : Susu skim adalah susu segar yang tertinggal setelah krim diambil sebagian atau seluruhnya. Susu skim mengandung semua zat makanan dari susu kecuali lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.
Susu ini kaya kandungan riboflavin atau biasa dikenal vitamin B2. Riboflavin memiliki peran penting dalam memproduksi energi pada berbagai tingkat seluler. Kurangnya energi diduga dapat memicu migrain. Vitamin ini juga memiliki peran vital dalam pembentukkan sel darah merah, antibodi dalam tubuh, dan dalam metabolisme pelepasan energi dari karbohidrat.
4. Biji rami : Biji-bijian kecil ini memiliki profil gizi yang tinggi dan juga mengandung asam lemak omega-3 yang mampu mengurangi perandangan akibat migren. Beberapa studi bahkan juga telah melihat adanya hubungan antara diet tinggi asam lemak omega 3 dengan penurunan risiko hipertensi, stroke, kanker, gangguan kekebalan dan masalah penyakit kulit tertentu.
5. Bayam : Hampir semua orang mengenal akrab sayuran berdaun hijau ini. Bayam sarat akan magnesium, salah satu nutrisi terbesar yang memiliki kemampuan mencegah migrain.
Sumber: kompas.com
Untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan derajat kesehatan yang tinggi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Diketahui ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. dr Prijo Sidipratomo, SpRad(K), Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam acara Peluncuran Dokter Kecil Award 2012 di Balai Kartini, Senin (26/3/2012) menuturkan ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: 1. Faktor perilaku pengaruhnya sekitar 40 persen 2. Faktor lingkungan pengaruhnya sebesar 30 persen 3. Faktor Genetik pengaruhnya sebesar 20 persen 4. Faktor akses kesehatan pengaruhnya sebesar 10 persen. “Kalau kita bisa mengintervensi lingkungan dan perilaku dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat, maka sudah memberikan kontribusi dalam memperbaiki derajat kesehatan,” ujar dr Prijo. dr Prijo menuturkan anggaran kesehatan yang dimiliki oleh Indonesia belum pernah mencapai 3 persen dari APBN yang ada sejak merdeka, dan sebagian dana ini untuk perorangan seperti mengobati orang sakit dan gaji pegawai di sektor kesehatan, sehingga untuk kesehatan masyarakat kecil. “Untuk itu perlu ada faktor pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui dokter kecil yang bisa menjadi agen perubahan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang bermutu dan dapat diandalkan,” ungkapnya. Hal ini juga diungkapkan oleh Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI dr Kirana Pritasari, MQIH yang berharap dokter kecil ini bisa berperan aktif untuk dirinya, teman, keluarga dan lingkungan sekitarnya. “Jika diajarkan sejak dini maka diharapkan PHBS ini bisa terus dan untuk jangka panjangnya bisa melahirkan generasi yang sehat dan mandiri. Serta tidak hanya berhenti sampai lulus SD saja, namun bisa terus hingga menjadi kader kesehatan remaja,” ujar dr Kirana. Dokter kecil ini dibentuk sebagai upaya strategis meningkatkan derajat kesehatan siswa usia sekolah dasar melalui pendekatan kelompok teman sebaya, sehingga bisa menjadi penggerak untuk hidup bersih dan sehat baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Kegiatan yang biasa dilakukan dokter kecil antara lain aktif di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), memberi contoh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS), buang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah. “Penyebab kematian utama anak-anak akibat infeksi karena kontak langsung seperti diare dan influenza, tapi dengan mengubah perilaku seperti rajin cuci tangan bisa bantu mengurangi penyakit infeksi,” ujar dr Kirana.
Sumber:
Ternyata, pemberian ASI tak hanya menguntungkan bagi si kecil, karena proses menyusui juga memberikan manfaat bagi bunda. Beberapa manfaat nyata yang bisa dirasakan oleh bunda yaitu :
Masker Bengkoang atau Mentimun Bengkuang sejak dulu dikenal mampu mengatasi flek hitam di wajah. Begitu pun mentimun. Efek sari bengkoang atau mentimun yang dingin, akan terasa sejuk di wajah sesaat setelah Anda memakainya Perawatan dengan buah-buahan ini sangat cocok bagi Anda yang aktif bekerja di luar ruangan. Anda cukup memblender bengkuang atau mentimun yang masih segar, lalu lumurkan di wajah agar flek hitam di wajah memudar.
Irisan Jeruk Nipis Bagi Anda yang berusia di atas 40 tahun, perawatan dengan irisan jeruk nipis sangat cocok untuk mengangkat sel-sel kulit mati. Oleskan secara merata irisan air jeruk nipis ke kulit wajah dan seluruh tubuh. Diamkan hingga kering, lalu bilaslah dengan air hangat-hangat kuku agar pori-pori terbuka. Setelah itu, bilas kembali dengan air dingin agar pori-porinya merapat. Teh Kandungan antioksidan dalam teh juga baik untuk mencegah penuaan dini. Teh yang mengandung tanin sangat baik untuk mengatasi kulit yang terbakar matahari, mengencangkan bibir, merawat kulit wajah, menghitamkan rambut dan menyegarkan mata lelah. Caranya sangat mudah:
* Inapkan selama semalam secangkir teh kental.
* Oleskan air teh ke seluruh kulit wajah dan tubuh.
* Biarkan kering dengan sendirinya.
* Bilas dengan air hangat untuk membuka pori kulit, lalu bilas dengan air biasa. Untuk menyegarkan mata yang lelah, Anda cukup meletakkan sekantong teh celup yang sudah dingin langsung pada kelopak mata. Diamkan beberapa saat, lalu basuhlah mata Anda dengan air bersih. Perawatan facial di rumah jika dilakukan dengan tepat dan rutin, akan menghasilkan wajah yang tak kalah bersihnya dengan perawatan di salon. Selamat mencoba!
Sumber: